Ada fenomena menarik minggu-minggu ini, DeepSeek tiba-tiba menjadi App yang mengguncang OpenAI. App ini menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh di App Store, serta secara mengejutkan mengguncang harga-harga saham perusahaan teknologi AS yang terkait dengan AI (NVIDIA, Microsoft). Uniknya, Presiden Trump baru saja mengumumkan investasi SoftBank, Oracle dan OpenAI sebesar $500 miliar untuk satu project raksasa yang dinamai Stargate.
Kenapa bisa heboh? Isunya adalah dana investasi DeepSeek yang diperkirakan sangat kecil berbanding total dana yang sudah dihabiskan oleh Microsoft untuk OpenAI atau Copilot. Nama-nama lain yang selama ini agresif melakukan investasi miliaran dolar untuk menguasai teknologi AI seperti Google, Meta, Amazon, Apple atau produsen chip/GPU seperti NVIDIA dan AMD, dipertanyakan investor.
Apa iya, large language model (LLM) yang mereka kembangkan dengan dana miliaran dolar kalah (tidak lebih hebat) dibandingkan DeepSeek yang konon hanya menghabiskan dana $5,6 jutaan semata. Bahkan ada analis yang menyebutkan DeepSeek sebenarnya hanyalah side project dari si pengembangnya.
Dan isu biaya super rendah ini bukanlah hal baru dengan China. Sudah ratusan perusahaan manufaktur tumbang dengan kemampuan China memproduksi dengan biaya yang jauh lebih rendah, apakah itu pakaian, elektronik, mobil (konvensional, EV), panel surya dan bahkan roket sekalipun.
Namun yang lebih menarik dari fenomena China ini adalah respon AS dan Eropa, termasuk Jepang, ketika berbagai produk jagoannya tumbang satu per satu. Mereka semua menuntut China dengan berbagai sangsi dagang yang diperkenankan dalam hukum perdagangan internasional. Namun upaya ini kelihatannya belum berhasil. Kemudian, sangsi berupa tarif atau proteksi mulai dijadikan sebagai senjata dagang melawan dominasi China.
Proteksi, tarif, dan yang semakin dominan, blokade dan pemaksaan untuk dikebiri secara terang-terangan merupakan senjata yang sekarang dipakai.
Ada dua kasus yang bisa menjelaskan fenomena baru perang dagang AS-China.
Pertama, kasus Huawei yang dominan untuk teknologi nir kabel termasuk 5G dan gadgets. Ketika teknologi 5G mulai diluncurkan di banyak negara, teknologinya diisukan mengancam keamaan nasional negara pengguna, sehingga kontrak Huawei di berbagai negara terpaksa diputuskan.
Meskipun, semua pengamat mengakui superioritas teknologi nir kabel Huawei.
Untuk segmen smart phone dan wearables, desain produk-produk Huawei diakui modern dan mulai populer di kalangan konsumen yang mencari alternatif produk Apple, Samsung atau Google. Namun sebelum mampu dominan, ekspansi pasar Huawei diamputasi paksa dengan Google membokade Huawei dari ekosistem Google, termasui Adroid OS, Playstore. Bahkan CFO Huawei di tahan rumah selama tiga tahun di Kanada, dengan berbagai tuduhan.
Kenapa Huawei diamputasi? Huawei bukan saja menggerus habis bisnis Siemens atau Cisco, namun juga sangat berpotensi memakan habis bisnis Apple, Google dan mungkin juga banyak big tech AS yang lain. Lagi-lagi fenomena DeepSeek membuktikan dengam amblasnya saham big tech companies di bursa New York.
Kedua, TikTok. Pemutusan layanan TikTok oleh Presiden Biden sebenarnya adalah proteksi secara terang-terangan atas Meta yang kalah populer di sosial media. Selain pengguna loyal TikTok adalah gen Z dan milenials yang merupakan konsumen utama masa depan, kebebasan berekspresi di platform tersebut membuat gerah Paman Sam.
Apalagi Meta (Facebook, Instagram, Whatsapp) selama ini telah menyediakan akses data pribadi secara terang-terangan kepada banyak pemerintah di dunia. Telegram juga adalah fenomena yang hampir sama, musuh utama Meta untuk aplikasi chat (Whatsapp) ini dijinakkan melalui tang pemerintah Perancis yang menahan CEO Telegram dengan berbagai tuduhan.
Ini semua adalah tindakan anti perdagangan bebas yang selama ini diagungkan oleh Ekonom Barat. Namun apa mau dikata, ketika yang berkuasa merasa terancam eksistensinya, semua cara akan dilakukan.
Dalam literatur, perkembangan ini adalah fenomena kicking away the ladder, yang sudah lama disinyalir oleh ekonom Ha-Joon Chang (2002).
Respon berlebihan dan anti pasar oleh AS atau (untuk kadar tertentu) Eropa, barangkali merupakan awal dari rivalitas tanpa batas antara AS (Barat) dan China. Sejarah membuktikan bahwa peradaban yang sedang mengalami kemunduran pasti akan melawan dengan berbagai cara, dan untuk beberapa dekade atau abad mereka mungkin akan mampu bertahan.
Namun, sejarah juga membuktikan, peradaban atau orde lama secara perlahan namun pasti akan digantikan oleh peradaban baru. Tesis. Antitesis. Sintesis/Tesis baru. Dunia berputar. Kekuasaan pasti digilirkan antara satu dengan lainnya.***
Originally published on luqyantamanni.wordpress.com, January 29, 2025: view original.