Masuk angin adalah fenomena ‘medis’ yang mungkinhanya ada di Indonesia. Mencari padanan dalam bahasa asing juga tidak mudah, apalagi menjelaskan kepada dokter di sono, ‘wind entered my body’?! Namun yang lebih menarik sebenarnya adalah bisnis ‘masuk angin’ ini. Salah satu sumber menyebutkan bisnis masuk angin bernilai lebih dariRp2,5 triliunsetiap tahunnya (Swa, Sept. 2015). Dengan pertumbuhan sekitar 15% per tahun, omset obat angin sudah jauh melampaui Rp3 triliun.
Kok bisa se-fantastis ini?
Jawabannya karena hampir semua orang Indonesia pernah mengalami atau mengeluh ‘masuk angin’. Gejalanya biasa ditandai dengan mual, kembung, meriang dan demam ringan.
Mitos atau fakta, namun nyatanya daribayisampailansiaorang Indonesia diajari dan belajar menghindari masuk angin.
Bayi-bayi dibedong dari lahir supaya tidak ada angin yang masuk, juga dilapisi perutnya dengan berbagai minyak (i.e. minyak telon) setiap kali habis mandi. Setelah agak besar sedikit,balita atau anak-anakIndonesia dilarang main hujan supaya tidak masuk angin. Beranjakremaja dan dewasa,orang tua biasanyamelarang anaknya begadang atau main terlalu larut, supaya tidak masuk angin.
Setelah dewasa, ternyata masuk angin tetap tidak bisa kalahkan. Bahkan jalur masuknya semakin banyak; terkena rintik hujan, kelamaan di ruangan ber-AC, duduk dipusaran kipas angin, atau lembur bisa jadi sebab masuk angin. Bahkan nyetir sejam dua pun bisa kena masik angin.
Celakanya, ketika usia makin lanjut(lansia), masuk angin menjadi penyakit harian. Alhasil, pakaian selalu berlapis, tidak boleh kena AC, bahkan tidur pun harus berselimut dan memakai kaos kaki.
Terlepas apakah ini mitos ataubeneranfenomena medis, orang Indonesia telah bertarung cukup lama dengan ‘angin’ ini. Ada yang menemukan bahwa dengan kerikan di punggung (pakai koin dan minyak) angin bisa pergi. Namun yang paling populer adalah dengan minum herbal atau jamu. Dari yang dibuat sendiri seperti jahe, jamu serbuk kemasan, atau yang semakin popular berupa jamu cairan kemasan siap minum.
Yang terakhir inilah yang menjadi andalan orang Indonesia sekarang. Bahkan ketika ke luar negeri untuk liburan atau menetap sekian lama, jamu kemasan ini jadi andalan ketika musim mulai dingin.
Maka tidak heran produsen jamu anti angin mampu bertahan dan tumbuh semakin besar. Tahun 2021, salah satu produsen obat masuk angin ini SIDO mencatatkanpenjualan bersihsebesarRp4,02 triliundari berbagai produk herbal dan kesehatannya, naik 21% dari tahun sebelumnya.
Sebesar67%darisalesini disumbangkan olehjamu dan herbalsampaiRp2,69 triliun. Angka ini hampir seluruhnya disumbangkan oleh satu brand yaitu Tolak Angin (dengan berbagai varian).
Tolak Angin sendiri merupakanmarket leaderdalam segmen jamu masuk angin, dengan market share lebih dari 70%, mendahului merk lain seperti Antangin, Herbangin atau Bejo Masuk Angin.
Jadi begitulah kisah masuk angin. Lain kali ketika masuk angin, ingat-ingat ya, anda telah menyumbangcuanratusan miliar ke produsen jamu nasional. Supaya kantong tidak ikut masuk angin, jangan keseringan masuk angin ya, nanti “bablas uang-ne”. ***(Ditulis dalam keadaan masuk angin)
Originally published on LinkedIn, July 7, 2022: view original.