Ada sebuah negeri antah berantah yang sedang defisit keberkahan. Negeri tersebut sudah lama menikmati kekayaan yang tak terhitung jumlahnya, serta memukau banyak mata dan memikat jutaan hati dengan tata krama penduduk serta kedermawanannya.
Negeri ini adalah kekuatan besar yang pernah menguasai dua samudera, serta berhasil mensandingkan antara ketaatan pada Pencipta dengan kecintaan pada harmonisnya hubungan manusia dengan bumi dan alam semesta. Namun semua kekayaan di dalam bumi dan di atas air telah menjadi kutukan bagi penduduk dan alamnya.
Negeri antah berantah ini selalu terbuka, menerima semua pihak luar yang hendak berdagang, berkunjung, dan menetap di bumi yang luas dan indah tiada tara ini. Ia adalah serpihan surga yang diturunkan ke bumi oleh Tuhan Yang Maha Indah. Keseimbangan antara air, tanah, udara, dan manusia telah wujud dan bertahan selama ribuan tahun, sampai keserakahan datang dan mengganggu keseimbangan yang ada. Alam yang selama ini memberikan kecukupan materi dan udara yang jernih, telah berubah menjadi sempit dan sesak.
Pada zaman serba digital ini, kesempitan hidup tanpa keberkahan itu semakin terasa. Semakin jelas pula bahwa negeri ini sedang kehilangan arah. Generasi muda semakin hanyut dalam hidup serba hedonis, para pemuka sibuk dengan rent-seeking yang akut, sementara perilaku ‘besar pasak daripada tiang’ makin membudaya di tengah masyarakat dan pemerintahan.
Keberkahan sudah mulai lenyap dari tanah ini. Diantara tanda-tanda hilangnya keberkahan yang bisa kita telusuri:
- Rakyat miskin masih dalam hitungan puluhan juta, sementara kesenjangan semakin tinggi antara yang kaya dengan kebanyakan penduduk negeri.
- Ketergantungan yang masih besar terhadap pihak luar, menjadikan bangunan ekonomi dan keuangan sebagai objek intervensi dan conditionality.
- Banyak isu ekonomi yang menjadi komoditas politik, sementara berbagai isu politik menjadi komoditas ekonomi.
Apa yang salah?
Kalau direnungkan secara jernih, ada beberapa penyebab dari pudarnya keberkahan.
- Pudarnya wibawa kepemimpinan umara maupun ulama. Hilangnya wibawa kepemimpinan bangsa di berbagai level dan wilayah ini telah dan sedang berlangsung. Umara tidak dihormati, ulama tidak diikuti. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh buruk atau lemahnya pemimpin tersebut, dan bisa juga karena kebanyakan masyarakat adalah mereka yang jahil, ignorant – yaitu tidak mau tahu, atau tidak tahu kalau mereka itu tidak tahu. Melihat tanda-tanda, kedua pihak nampaknya mempunyai andil yang sama dari pudarnya wibawa kepemimpinan bangsa saat ini.
- Hilangnya adab dan tata krama. Mudahnya berkomunikasi ternyata tidak membuat manusia jadi lebih bijak dalam bertutur atau bersilaturahmi, terutama di dunia maya atau media sosial. Di balik profil akun yang penuh senyum, begitu mudahnya mengalir cemoohan, cercaan, sampai cacian yang tidak pernah terucap kecuali dalam lingkungan serong atau situasi penuh murka. Manusia negeri ini sekarang begitu mudah mencaci-maki, meremehkan, dan menghakimi bahkan terhadap orang yang sepatutnya mereka hormati dan sayangi. Alahkah banyaknya si Pahit Lidah dan Malin Kundang sekarang ini! Padahal kita tahu, pemilik warung yang kerjanya marah dan mencaci, bisa dipastikan dagangannya tidak akan pernah laku.
- Pupusnya budaya ilmu dan pengetahuan. Bangsa yang besar, maju dan bermartabat dibangun atas fondasi ilmu dan pengetahuan yang kokoh dan menyebar luas. Kalau kita teliti keadaan masyarakat sekarang, memang tidak ada lagi yang buta huruf melainkan hanya 6-7% saja dari seluruh negeri. Namun, sayangnya kemampuan baca tulis, yang lima puluh tahun dahulu dianggap kemewahan, tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Rakyat disibukan dengan tontonan dan sosmed 24 jam yang mengebiri minda, ketoprak bernuansa politik yang tiada berujung, serta keperihan ekonomi dalam pencarian nafkah yang tiada hentinya. Tidak bisa disalahkan mereka, kalau akhirnya hanya membaca posting penuh dusta, koran/laman berita tanpa tanda baca, atau menulis surat permohonan dan proposal proyek saja.
Buku dan majelis ilmu hanya tempat penitipan anak sampai mereka remaja. Kampus hanya pabrik gelar sarjana dan makalah untuk dimuat di jurnal tanpa pembaca, serta lahan diklat mahasiswa berunjuk-rasa. Esensi ilmu adalah pencarian dan penelaahan, yang untuk mencarinya membutuhkan ketekunan, pengorbanan, dan kesabaran. Tidak mungkin ada sarjana yang bisa diluluskan secara instan, apalagi menghasilkan para guru besar dalam tempo yang sesingkatnya – tanpa karya nyata atau kontribusi terhadap keilmuan.
Namun semuanya mungkin dan tersebar secara leluasa di antah berantah. Kalau mau dilanjutkan, akan banyak lagi tanda-tanda hilangnya keberkahan, namun cukuplah itu menjadi bahan renungan masing-masih kita. Yang lebih penting adalah apa yang seharusnya dilakukan untuk mengembalikan keberkahan hidup dalam negeri yang sangat kita cintai ini.
Originally published on luqyantamanni.wordpress.com, March 17, 2024: view original.