Posted in

Anak, Konsumsi dan Ramadhan Kita

Anak-anak merupakan harapan orang tua untuk masa depan yang lebih mapan. Pada saat bersamaan, anak-anak kita ternyata juga menjadi tumpuan dan harapan bagi pemasar berbagai perusahaan, yang sedang membentuk mereka sebagai target masa kini dan sekaligus pasar masa depan.

Dalam sebuah survey global, pakar branding internasional Martin Lundstrom menyimpulkan bahwa anak-anak menyumbang hampir 30% dari pasar barang mewah dunia. 

Survey ini juga memprediksi bahwa ketika bayi abad digital ini menginjak usia dewasa, keterikatan mereka dengan brand dan barang yang dikonsumsi dalam usia-usia emas sangat kuat, hampir 75% melekat dalam pikiran dan ikatan emosional, yang secara langsung berdampak pada brand loyalty ketika mereka beranjak dewasa.

Selama tiga puluh tahun terakhir, tingkat konsumerisme – yangdidefinisikan sebagai suatu kecanduan (addiction) terhadap belanja dan gaya hidup konsumtif, terus meningkat. 

Secara umum, konsumersime dunia meningkat dari 20% pada tahun 1970 menjadi hampir 50% pada tahun 2010. Yang lebih mengkhawatirkan adalah konsumerisme bagi usia anak-anak dan remaja, yang meningkat dari hanya 13% tahun 1970 menjadi hampir 30% dalam periode yang sama. 

Jelas bahwa konsumerisme merupakan perilaku sosial yang mempunyai dampak sama buruk dengan addiksi yang lain, seperti merokok.

Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk memutus mata rantai kebiasaan konsumtif dikalangan anak-anak. Bulan puasa bisa menjadi momen terbaik untuk mengembalikan anak-anak ke lingkungan hidup yang wajar dan sehat.

Bagaimana mencegah dan menangani konsumerisme dalam keluarga kita, terutama untuk anak-anak kita?

Langkah pertama dari orang tua terlebih dahulu, yaitu dengan mengatur semua kebiasaan belanja menjadi lebih teratur dan terarah. Orang tua yang berbelanja secara disiplin, taat budget dan sesuai kebutuhan, akan memberi teladan yang baik buat anak-anak. 

Mengajak anak belanja ke swalayan sebaiknya dihindari, kecuali dibekali dengan shopping list – baik untuk keperluan mereka atau membantu orang tua mencari barang yang akan dibeli.

Gempuran iklan ketika di mall, ruang publik, atau di berbagai media, serta pengaruh lingkungan harus dilawan dengan disiplin dan alternatif perhatian yang lebih menarik.

Ramadhan adalah saat yang baik untuk mengantar anak-anak ke pensatren kilat misalnya, atau program keagamaan lainnya. Atau mengantarkan anak-anak pulang kampung lebih dahulu, sekiranya jadwal liburan sekolah memungkinkan.Melarang secara drastis mungkin bukan langkah yang bijak, terutama kalau anak-anak mempunyai akses sumber uang selain dari kita orang tua, misalnya kakek-nenek atau anggota keluarga yang lain. Namun, ketika semua pihak keluarga dekat kompak, insyaAllah, Ramadhan akan lebih bermakna tanpa belanja yang berlebihan.

Originally published on luqyantamanni.wordpress.com, March 24, 2024: view original.

Economist and Certified Financial Planner (CFP®) working on Islamic finance and household financial decisions in Indonesia. PhD in Finance, University of Glasgow.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *