Posted in

Opinion is free

Nasreddin Hodja was asked, “Teacher, what’s the hardest thing and what’s the easiest thing in the world?” He replied. “The most difficult thing is to know oneself and the easiest is to give advice to others.”

Comment is free

 

 

 

 

 

 

 

 

Memberikan opini dan komentar atas apa saja peristiwa telah menjadi tabiat baru masyarakat Indonesia. Dengan perkembangan media sosial yang pesat dan tersedianya channel komunikasi dua arah dalam berbagai situs berita dan mass media, telah terbuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengirim berita sebagai bentuk citizen journalism, menuliskan kolom opini atau blog pribadi di media nasional, atau sekedar ikut mengomentari, ‘like’ dan ‘share’. Perkembangan ini sesungguhnya adalah sesuatu yang positif, mengingat keterbukaan informasi seharusnya bisa membawa perubahan yang baik untuk bangsa dan Negara.

Di sisi lain, jika kita cermati maka akan kentara bahwa platform opini yang begitu luas tersedia ini telah melahirkan kebiasaan dan kultur baru yang tidak seluruhnya positif. Setiap berita yang sedang hangat atau kontroversial akan dipenuhi oleh berbagai komentar, baik yang ber-nash atau asal bunyi, dari berbagai kalangan pembaca. Banyak malah komentar yang bernada menghujat, menebar kebencian, bernada rasis, yang seringkali diluar konteks sama sekali.

Yang juga merisaukan adalah lahirnya profesi dan industri baru dari kebebasan beropini ini. Para spin doctors lama dan baru, profesional atau partikelir, telah menjadikan medium komentar di berbagai media publik dan media sosial, atau platform citizen journalism, sebagai sarana yang efektif untuk penggiringan dan pembentukan opini tertentu.

Namun yang paling mengkhawatirkan dari fenomena ini adalah mulai terkikisnya adab dan tata krama dalam berkomunikasi di depan publik. Kekuatan media online yang bisa menyembunyikan identitas dan wajah si penulis dan pemberi komentar seolah telah merubah karakter kita. Orang tidak merasa sungkan lagi untuk memaki orang lain secara online, baik itu orang yang tidak dikenal atau bahkan sahabat dekatnya. Sayangnya, perilaku ini semakin jauh dari kepribadian bangsa yang besar dan berbudaya tinggi ini. Bahkan mereka yang mencoba mengingatkan akan etika dan tepa selira dianggap hipokrit, munafik, atau ketinggalan zaman.

Dengan semakin luasnya jaringan komunikasi di berbagai pelosok serta semakin hilangnya figur panutan, baik hilang secara alamiah atau diredupkan oleh berbagai kepentingan, agak menakutkan rasanya masa depan bangsa ini. Hilang adab, lenyap budi dalam masyarakat mungkin itu tanda zaman, dan tabiat dunia yang semakin menua ini. Wallahu a’lam.

Originally published on luqyantamanni.wordpress.com, November 7, 2015: view original.

Economist and Certified Financial Planner (CFP®) working on Islamic finance and household financial decisions in Indonesia. PhD in Finance, University of Glasgow.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *