Selain media cetak utama, Presiden SBY dan beberapa menteri secara khusus mengumumkan posisi Indonesia yang sudah meningkat menjadi 10 besar ekonomi dunia. Meskipun barangkali banyak yang tidak peduli dengan kondisi perekonomian Indonesia, namun media sosial ramai membicarakan peringkat 10 ini.
Meskipun heboh kemana-mana, namun peringkat 10 besar ini bukanlah suatu keajaiban atau prestasi yang luar biasa. Gross Domestic Product (GDP) Indonesia hanya tumbuh 5-6% dari tahun lalu, sehingga nilai GDP kita tahun ini pun sesungguhnya masih hampir sama dengan tahun lalu. Yang menyebabkan Indonesia naik tingkat dari posisi ke-16 menjadi 10 adalah pergantian metode hitung, itu saja.
Semua ini bermula dari upaya untuk mengukur kekuatan ekonomi dunia dengan metode yang paling akurat dan tepat. Sejak beberapa tahun yang lalu, Bank Dunia dengan mandat dari UN Statistical Division telah melakukan berbagai kajian dan eksperimen dalam menghitung ulang GDP berbagai negara. Program yang dinamakan International Comparison Program ini telah dimulai sejak tahun 1968, namun setelah sangat lama vakum dihidupkan kembali pada tahun 2005.
Program ini mencoba menghitung ulang GDP dengan mengukur pada kesetaraan daya beli atau Purchasing Power Parities (PPP), dimana hasil produk domestik bruto (PDB atau GDP) dinilai bukan dengan US$ (pada suatu tahun tertentu) tapi pada nilai tukar yang sesuai dengan daya beli uang lokal tersebut di dalam negeri. Salah satu contoh yang cukup terkenal adalah Big Mac Index, yang diperkenalkan majalah The Economist sejak tahun 1986. Metode ini menghitung apakah mata uang suatu negara under– atau overvalue, dengan melihat harga burger Big Mac diseluruh dunia.
Sebagai contoh, katakan misalnya harga Big Mac bulan Januari 2014 adalah US$4,6 di US, sementara di Indonesia harganya cuma US$2,7 (pada kurs pasar bulan tersebut). Artinya, ketika barang yang sama persis dijual dengan harga yang berbeda, maka pasti ada yang keliru dengan perhitungan kurs – ceteris paribus. Dalam hal ini Rupiah dihargai lebih rendah dari Dollar AS, atau under valued sebesar 50%. Untuk penyetaraan, maka nilai tukar mata uang Rupiah dengan US$ harus dihitung ulang sesuai persentase tadi untuk menghasilkan nilai tukar sesuai PPP.
Metode ini dianggap lebih akurat dibandingkan metode sekarang yang menghargai hasil produk domestik bruto suatu negara dipukul rata dalam kurs US$ pada waktu tertentu. Misalnya, asumsikan bahwa produksi Indonesia pada 2014 adalah hanya 1 juta big mac, maka dengan harga tadi diperoleh nilai GDP Indonesia bulan Januari sebesar US$2,7 juta. Padahal kalau Big Mac tersebut dihitung dengan nilai yang bisa didapat dengan harga di US, GDP Indonesia seharusnya bisa mencapai US$4,6 juta. Proses inilah yang sudah dilakukan Bank Dunia.
Metode PPP menghitung ulang harga-harga barang yang dianggap setara dan kemudian dibuatkan indeks seperti Big Mac untuk hampir 200 negara di dunia. Disinilah rumitnya metode PPP ini dan memakan waktu bertahun-tahun, karena harus dicari index harga sekian banyak barang yang jumlahnya cukup representatif dari hampir semua negara di dunia ini. Namun hasilnya adalah sebuah metode perhitungan Gross Domestic Product yang lebih menggambarkan ukuran ril ekonomi suatu negara.
Originally published on luqyantamanni.wordpress.com, May 8, 2014: view original.


