![]() |
| Ilustrasi: seorang relawan BwB di tempat klien |
Sudah empat bulan lebih saya terdaftar sebagai volunteer di BankersWithoutBorders (BwB), sebuah program relawan profesional dari Grameen Foundation, namun belum ada berita kapan mulai volunteering. Tujuan utama BwB adalah membantu berbagai lembaga keuangan mikro di dunia berkembang, terutama yang membutuhkan bantuan teknis dan tenaga ahli dalam mengembangkan produk dan lembaganya. Meskipun belum ahli, namun saya sangat berminat dalam membantu pengembangan kelembagaan institusi microfinance.
- Komitmen sangat penting untuk menyelesaikan pekerjaan sukarela. Hari pertama saya mulai mengerjakan laporan, hard disk laptop saya tiba-tiba crashed. Di tengah kebingungan mengganti hard disk baru, dan ternyata kemudian juga harus membeli Mac OS X dan kabel HDD yang baru, saya meneruskan pekerjaan dengan laptopanak saya yang menggunakan Windows. Setengah kagok dan harus menyesuaikan lagi posisi keyboard dan tampilan MS Word, saya bertekad menulis dan riset minimal 3-4 jam sehari, disamping tetap mengerjakan tugas-tugas lainnya. Alhamdulillah, dalam waktu 14 hari draf pertama selesai saya buat, dan masih dalam deadline yang disepakati.
- Komunikasi dengan counterpartsangat penting, terutama tentang scope of work atau term of reference yang jelas. Setiap concern atau sesuatu yang kurang jelas, baik jadwal kerja maupun ekspektasi klien terhadap laporan/deliverables, harus kita komunikasikan dengan baik untuk menghindari kesalahpahaman. Satu poin yang saya email beberapa kali adalah definisi corporate waqf bagi tim IRW. Dalam riset yang lakukan, saya temui bahwa corporate waqf mempunyai dua arti yang berbeda; a) bisa berarti pengelolaan waqf secara korporasi, dan bisa juga berarti b) mobilisasi dana waqf dari perusahaan-perusahaan. Ini saya sampaikan dan IRW kemudian memberikan klarifikasi apa yang mereka inginkan, yaitu dua-duanya.
- Volunteering hanyalah mekanisme hubungan kerja, selebihnya sama saja dengan pekerjaan lainnya. Sebagaimana layaknya assignment yang lain, menjadi volunteer tidak menyebabkan SOW atau TOR bisa kita abaikan atau sederhanakan karena kita tidak dibayar oleh siapapun. Malahan, bagi saya, pekerjaan ini merupakan pilihan kita sendiri dan karenanya harus selesai dengan sebaik-baiknya.
- Kesempatan menjadi relawan bisa dari mana saja, tidak harus dari lembaga yang pertama atau terlebih dahulu kita inginkan. Saya masih aktif mengikuti perkembangan BwB, namun perkenalan dengan IRW membuka wawasan baru. Islamic Relief Worldwide sendiri bukanlah lembaga mikro yang tidak mampu membayar tenaga profesional, namun sebagai lembaga charity dan nirlaba, IRW sudah terbiasa dan mempekerjakan banyak volunteerdiseluruh dunia. Relawan ini terutama banyak membantu untuk menggalang dana, pekerjaan emergency response di daerah bencana atau tugas kemanusiaan yang lain. Jadi tugas yang diberikan kepada saya pun untuk dimanfaatkan bagi tujuan yang insya Allah mulia dan tidak untuk mencari keuntungaan.
- Terus belajar dan membangun jaringan. Saya belajar banyak hal dalam proses menjadi relawan ini, selain sebelumnya sudah menghabiskan waktu belasan jam untuk memahami proses volunteering di BwB. Saya mendalami dan belajar ilmu baru tentang microfinance, corporate waqf, dan yang paling berkesan menemukan komunitas baru yang sangat dinamis. Saya baru sadar sekarang ternyata komunitas relawan profesional sudah lama berkembang dan sangat banyak variasinya. Yang terbesar mungkin adalah VSO, yang mencari dan menempatkan volunteer profesional selama 1-2 tahun di negara-negara berkembang. Banyak yang antri untuk menunggu kesempatan menjadi relawan lembaga ini. Ada juga beberapa lembaga sejenis VSO yang mengenakan biaya bagi orang yang ingin berpartisipasi, dan tidak perlu antri, terutama yang ingin mengisi gap year sehabis kuliah atau pindah pekerjaan.
- Terbuka peluang untuk membuat jaringan relawan profesional iB untuk membantu lembaga-lembaga keuangan mikro syariah di Indonesia. Ini insya Allah sudah mulai digulirkan, namun butuh waktu dan barangkali kesungguhan untuk menjalankannya. Beberapa-orang teman sudah mulai mendiskusikan prospek dan bagaimana menggerakkannya di Group Indonesian Islamic Finance Community di Linkedin.
Saya sangat senang kalau pembaca dengan pengalaman serupa bisa juga sharing pengalamannya di bagian “comment” di bawah ini, link tulisan/blog juga boleh.***
Originally published on luqyantamanni.wordpress.com, October 20, 2012: view original.
