
Buku yang ditulis oleh sosiolog Kate Liepmann, terbitan tahun 1944, ini mengupas berbagai aspek dari perjalanan ke tempat kerja sebagai fenomena sosial yang dianggap penting dalam kehidupan masyarakat modern.
Buku ini diawali dengan pembahasan mengenai perjalanan ke tempat kerja dalam konteks mobilitas atau pergerakan (movements). Movements disini, bagi Liepmann, bukanlah hanya rutinitas manusia yang bergerak dari satu titik ke titik yang lain dalam konteks transportasi, tetapi juga mempunyai pengaruh yang sangat mendalam terhadap aspek sosial, ekonomi, dan geografis.
Oleh karenanya, Liepman menghabiskan cukup banyak waktu untuk mengupas biaya ekonomi dari ‘pergerakan’ ini, serta dampaknya terhadap ekonomi keuarga dan negara. Bahkan buku ini menyajikan biaya ekonomi secara detil dalam satu bab khusus.
Di antara harga dari mobilitas adalah beban finansial, kehilangan waktu, dan keletihan yang diderita para ‘commuters’.

Namun bahasan yang paling menarik, dan menjadikan buku ini masih relevan adalah implikasi perubahan dan pertumbuhan mobilitas pekerja dan sentra ekonomi/produksi bagi perencanaan atau tata kelola kota. Selain itu, dampak terhadap perencanaan arus dan konektivitas moda transportasi juga sangat besar, terutama pergerakan antara pusat kota (inner city) dengan kawasan perumahan atau sub-urban.
Liepmann mengupas secara detil persoalan ini, sehingga menghabiskan empat bab, termasuk dengan menyajikan data dan analisis statistik untuk England dan Wales pada waktu itu. Studi kasus kota London periode ‘inter-war’ juga merupakan kupasan yang masih sangat relevan, disamping memberi nuansa historis yang nostalgis bagi yang mengenali London era 1940an.
Namun bagi saya, kesan terbesar dari buku ini adalah perasaan deja vu dan menemukan analisis ‘ilmiah’ dari aktivitas rutin yang melelahkan di Jakarta dulu. Ternyata ada ya buku tentang kegiatan rutin kita yang jadi ‘commuter’ di ibukota tercinta. Ternyata ada ya perhatian ilmuwan terhadap movements kita yang painful-full itu!? We’re not alone, ternyata.
Kesan berikutnya adalah perasaan miris. Kenapa ya tidak ada landasan ilmiah seperti ini, yang dipakai – bukan sekedar studi/laporan yang hanya ada dibutir anggaran atau rak kaca kepala kantor, ketika membangun ibukota dan kota-kota lain di nusantara. Kalau ada kan jadi lebih nyaman mobilitas rakyat.
Mobilitas pekerja, pegawai, dan seluruh pelaku ekonomi sesungguhnya kan bisa diprediksi, diperkirakan, dan malah bisa direncanakan atau diatur kalau mau. Tapi kenapa di Indonesia urusan tata kota semuanya (seakan) didesain untuk kacau dan amburadul?! Banyak yang mungkin bisa dan pandai menjawab soal ini, tapi realita dan tingkat keletihan (fatigue) yang sangat tinggi yang dirasakan 12 juta pekerja ibukota tidak bisa dibantah dengan kata. Bukti, mana bukti!
Iya, mungkin perubahan sudah mulai dijalankan, namun belajar dari pengalaman buruk dan khazanah pengetahuan diluar sana juga jangan dianggap remeh. Toh, meski berat dan mengeluh, para komuter tetap akan berangkat subuh besok hari, kita tetap akan pulang ke rumah besok isya. Jadi, live must go on, bukan?!
Yang pasti, buku ini yang awalnya saya baca hanya sebagai jeda ditengah pengerjaan thesis, menjadi buku yang menggugah pemikiran, serta sedikit membawa nostagia mimpi buruk.
Sudah hampir 5 tahun meninggalkan rutinitas 5-7 alias pergi subuh pulang isya, namun keletihan ketika duduk di bis feeder busway yang sempit, macet di tol jagoragi yang berkepanjangan, atau gelantungan dikoridor kereta yang sesak, masih terasa sampai sekarang.
Yang lebih parah, buku ini juga menjadi momok dan seolah menyindir, bahwa masa lima tahun tanpa kenal macet Jakarta itu akan segera berakhir. Alhamdulillah!
Alhasil, The Journey to Work seolah mengantar masa-masa indah dalam buaian hidup nyaman, menuju realitas dan mobilitas bekerja yang sangat ‘menantang’ di alam surga nusantara. Indeed, journey to work has an utmost significance on my work and social life. Yes, got it!***
Originally published on luqyantamanni.wordpress.com, May 27, 2016: view original.